Monday, May 4, 2009

Erotomania

Erotomania atau biasa dikenal dengan sebutan de Clerambault’s syndrome merupakan suatu bentuk gangguan kepribadian dimana para penderitanya memiliki keyakinan yang merupakan waham bahwasannya ada seseorang, biasanya yang memiliki status sosial lebih tinggi (selebritis, bintang rock, orang terkenal, wanita sosialita, bos, dll), memendam perasaan cinta kepada si penderita, atau mungkin memiliki suatu bentuk hubungan intim. Gangguan kepribadian ini rata-rata penderitanya adalah kaum pria.

Pertama kali ditelaah oleh psikiater asal perancis yang bernama Gaetan Gatian Clerambault, yang menyusun sebuah makalah yang membahas tentang gangguan kepribadian macam ini pada tahun 1921. walau referensi awal yang sejenis dengan gangguan ini telah ada dalam tulisan Hipokrates, Erasistratus, Plutark, dan Galen. Dalam dunia psikiatri sendiri referensi sejenis ini telah ada pertama kali dalam tahun 1623 dalam sebuah risalah berjudul Maladie d’amour ou melancolie erotique yang ditulis oleh Jacques Ferrand, dan juga disebut sebagai “old maid’s psychosis”, “erotic mania” dan “erotic self-referent delusions” sampai kemasa sekarang dimana disebut sebagai bentuk dari Erotomania atau de Clerambault’s Syndrome.

Inti utama dari bentuk sindrom ini adalah si penderita memiliki suatu waham atau delusi keyakinan bahwa ada orang lain, yang biasanya memiliki status sosial yang lebih tinggi, secara sembunyi-sembunyi memendam perasaan cinta kepadanya. Para penderita selalu yakin bahwa subjek dari delusi mereka secara rahasia menyatakan cinta mereka dengan isyarat halus seperti bahasa tubuh, pengaturan perabot rumah, atau dengan cara lain yang kemungkinan tidaklah mungkin (jika yang menjadi sasaran adalah seorang public figure maka akan diartikan secara salah oleh penderita, terhadap sesuatu yang tertulis dalam media massa tentang orang tersebut). Sering kali orang yang menjadi objek dalam delusi, hanya memiliki sedikit sekali hubungan atau bahkan tidak berhubungan sama sekali dengan sang penderita. Walau demikian sang penderita tetap percaya bahwa sang objek-lah yang memulai semua hubungan khayal itu. Delusi Erotomania sering ditemukan dalam sebuah gejala awal dari sebuah gangguan delusional atau dalam konteks Skizofrenia.

Terkadang subjek yang berada dalam delusi tidaklah pernah ada dalam dunia nyata, nemun yang lebih sering terjadi, subjek adalah publik figur seperti penyanyi terkenal, aktor, aktris, politikus, selebritis dll. Erotomania juga disebut-sebut sebagai suatu penyebab perilaku Stalking yaitu suatu bentuk perilaku memperhatikan orang lain tanpa sepengetahuan orang yang diperhatikan, lalu perlahan melakukan suatu upaya pendekatan yang bersifat mengganggu, biasanya dengan obsesi bahwa korban adalah orang yang perlu ditolong atau bahkan dimusnahkan. Selain itu Erotomania juga disebut sebagai penyebab dari bentuk suatu tindakan yang mengganggu orang lain.

Percobaan pembunuhan terhadap Mantan Presiden Amerika Serikat, Ronald Reagan oleh John Hinckley, Jr. dilaporkan telah diakibatkan oleh erotomania yang diderita Hinckley, yang merasa bahwa artis Jodie Foster akan membeberkan kepada publik bahwa ia cinta kepadanya setelah ia membunuh sang presiden. Hinckley sendiri terbebas dari jeratan hukum karena didiagnosa memiliki gangguan jiwa (skizofrenia).

Berikut adalah daftar beberapa artis yang menjadi korban dari gangguan kepribadian ini:
Linda Ronstadt
David Letterman
Madonna
Barbara Mandrell
Ronald Reagan
Steven Spielberg

Sumber:
http://www.helium.com/items/263966-defining-erotomania
http://psychology.wikia.com/wiki/Erotomania
http://cetrione.blogspot.com/2008/06/erotomania.html

Baca terusannya......

Stalking : Bentuk Perhatian Dari Seseorang Yang Tidak Pernah Diharapkan

Pernahkah anda merasa ada orang lain yang mulai mengganggu hidup anda dengan memberikan ancaman melalui surat atau email dan juga berbagai macam gangguan lain seperti telepon tanpa suara atau terdengar suara mengancam, mulai dari yang bersifat hanya sebatas ucapan sampai kepada tindakan nyata. Atau anda sering mendapatkan perhatian dari orang yang belum anda kenal sebelumnya berupa hadiah, kiriman bunga, surat cinta. dimana anda merasa bahwa mereka selalu saja menemukan diri anda dimanapun, bahkan anda tidak bisa bersembunyi sama sekali, mereka ada dan nyata, mengikuti dan membuntuti anda. Anda sadar kalau semua ini bukanlah sebuah bentuk paranoid belaka, melainkan memang benar adanya, dan menghantui hidup anda. Mereka memaksa anda untuk merasa terancam, tidak tenang dan berada dibawah tekanan. Jika anda pernah mengalami gangguan demikian kemungkinan besar yang terjadi pada diri anda adalah, anda telah menjadi korban dari perilaku stalking, Yaitu suatu bentuk kelainan yang dimiliki seseorang yang terobsesi dengan diri anda. Mereka merasa diri anda memang pantas diperlakukan demikian dengan dasar keyakinan waham yang mereka yakini didalam kepala mereka yang selalu berisikan pemujaan terhadap diri anda dan juga ide-ide “kegilaan” yang berkenaan pada diri anda.

Pengertian Stalking

Stalking adalah kata yang digunakan dalam menunjuk pada suatu perhatian yang tidak diharapkan dari seseorang atau mungkin sekelompok orang terhadap orang lain. Dalam dunia psikologi sendiri kata stalking digunakan untuk mendefinisikan suatu bentuk perilaku yang cenderung bersifat gangguan, hal ini juga digunakan pada bidang hukum dimana stalking didefinisikan sebagai salah satu bentuk tindakan kriminal. Pada awalnya Stalking digunakan dalam mengartikan tindakan mengganggu yang didapati oleh para orang terkenal, seperti selebritis, dari seseorang yang tidak ia kenal dimana orang tersebut yang mana para pelakunya telah memiliki suatu bentuk obsesi tersendiri kepada para korbannya. Hal ini pertama kali digunakan dalam sebuah tabloid di Amerika.

Dalam bidang psikologi dan psikiatri sendiri stalking diartikan oleh Meloy (1998) dan juga Stieger, Burger dan Schild (2008), yang mana oleh mereka suatu perilaku dapat dikategorikan sebagai stalking jika korban melaporkan sekurang-kurangnya 2 bentuk perilaku yang bersifat mengganggu dimana waktu kejadiannya terjadi kurang dari 2 minggu dan selalu memberikan rasa takut kepada korbannya.

Ranah Perilaku

Stalking telah diterapkan kedalam banyak bentuk dari perilaku, yang juga didasari oleh berbagai macam motif. Obsesi adalah dasar dari perilaku stalking, dimana sang pelaku akan melakukan observasi dan juga melakukan kontak dengan korbannya semua ini bertujuan untuk memenuhi keinginannya untuk memiliki kedekatan dengan korban. Tidak jarang juga bahwa para stalker mengikuti korban sampai ketempat mereka beraktifitas dan sampai ketempat mereka tinggal, juga mereka tertarik terhadap informasi-informasi yang bersifat personal dari korbannya seperti nomor telepon, alamat email, ukuran pakaian, nama lengkap dan lain-lain yang cenderung bersifat privasi. dimana mereka juga berusaha mencari informasi tentang jati diri korban melalui berbagai macam hal seperti internet, arsip personal, atau media lain yang mengandung informasi tentang diri korban, bahkan ada yang sampai mendekati orang-orang terdekat dari korban untuk memperoleh hal tersebut yang jelas dilakukan tanpa ijin.

Karakteristik diri seorang stalker cenderung memiliki kepercayaan yang salah didalam dirinya, terkadang kepercayaan salah itu berbentuk bahwa orang yang menjadi targetnya memiliki rasa cinta kepada sang stalker. Dasar ini muncul dari kecenderungan Erotomania (suatu bentuk gangguan kepribadian dimana penderitanya yakin bahwa seseorang yang lebih tinggi status sosialnya mencintai dirinya, dan hal ini biasa ditemukan pada pria) yang dimiliki pada seorang stalker. Selain itu perilakunya juga didasari oleh keinginan sang stalker untuk menolong korbannya dari sesuatu, padahal jelas bahwa orang tersebut tidaklah memerlukan pertolongan. Sehingga stalking juga dapat dikemas dalam suatu tindakan yang bersifat legal seperti menelepon, mengirimkan hadiah atau mengirimkan surat dan email. Namun semua itu datang dari orang yang tidak diharapkan dan malahan menimbulkan gangguan dan ketidak-nyamanan, karena sang korban tidak mengerti apa maksud dan tujuan dari para stalker yang berperilaku berlebihan itu.

Perilaku merugikan sang korban seperti fitnah dan mencemarkan nama baik korban seringkali ditemui dalam suatu kasus, hal ini merupakan suatu cara bagi stalker untuk dapat berperilaku kejam yang merupakan hasrat mereka kepada para korbannya, dilakukan tanpa empati, seperti merasakan apa kira-kira yang dirasakan orang lain dari apa yang telah ia lakukan terhadapnya, tidak ada rasa empati pada diri seorang stalker, mereka cacat dalam hal tersebut, membuat mereka menjadi lebih sadis, seperti dikatakan oleh Dr. Meloy (1998), bahwa setiap stalker adalah psikopat, yaitu pribadi yang tidak memiliki hati nurani dan memiliki tingkat narsisis yang terlampau tinggi. Selain itu perilaku sadis yang mereka tunjukkan mendapat dorongan dari dalam pikiran mereka yang telah mengalami berbagai macam waham, dan biasanya daripadanya mereka mendapat kesimpulan bahwa diri korban memang pantas diperlakukan dengan cara yang demikian.

Stalker memandang para korbannya buruk dan lemah sehingga dari kepercayaan sesat itu mereka merasa pantas untuk memperlakukan para korbannya dengan buruk atau bahkan berperilaku seperti ingin menolong mereka. Hal ini semakin mendorong waham didalam pikiran mereka untuk dapat memperlakukan sang korban dengan layaknya apa yang mereka delusikan seperti untuk disakiti atau untuk ditolong. Jika mereka menebar fitnah dan juga menyebarkan kejelekan karakter dari sang korban, hal tersebut akan dapat mengisolasi kehidupan sang korban yang pada akhirnya akan menimbulkan perasaan akan kekuasaan bagi stalker dan kendali lebih atas diri korban. Adapun kiranya para stalker melakukan diagnosa terhadap sang korban terhadap dengan kesimpulan bahwa sang korban memiliki suatu gangguan mental tertentu yang menyebabkan dirinya perlu ditolong atau mungkin perlu disakiti, kepercayaan ini sangat absolut didalam diri stalker yang mengakibatkan korban merasa sangat tertekan.

Perilaku manipulatif adalah senjata bagi stalker, tindakan yang bersifat legal namun penuh dengan gangguan adalah salah satu cara dari sikap manipulatif yang mereka miliki. Akan lebih berbahaya jika korban sampai termakan oleh perilaku manipulatif mereka karena seorang stalker menginginkan suatu hal yang cenderung tidak rasional bagi korbannya. Bahkan demi mendapat perhatian dari korbannya tidak jarang ada bentuk perilaku stalker yang sampai mengancam akan melakukan bunuh diri jika tuntutannya tidak dipenuhi. Semua ditujukan agar sang korban mau membuka hubungan dengan dirinya. Bentuk-bentuk ancaman dan kekerasan seperti perusakan barang-barang korban sering kali ditemui dalam kasus-kasus perilaku stalking. setelah menakut-nakuti korban, bentuk kejahatan biasanya berlanjut kepada perilaku kekerasan seksual dan juga penyerangan secara fisik yang dari keduanya dapat menimbulkan bekas yang serius pada jiwa dan raga korban.

Studi Gender Yang Berhubungan Dengan Stalking

Dilaporakan bahwa matoritas pelaku stalking adalah kaum pria, dan sedikit ditemukan pada kaum wanita. Berdasarkan hasil catatan dan juga diagnosa psikiatris dari pria dan wanita yang melakukan stalking tidaklah jauh berbeda, namun pada kaum pria telah tercatat sebelumnya memiliki sejarah terlibat kasus kejahatan yang telah menjurus pada kriminalitas. Selain itu kecenderungan durasi waktu yang dihabiskan untuk menguntit pada korbannya juga tidak jauh berbeda antara yang pria dan yang wanita.

Pada stalker wanita biasanya mereka mencari korban dari orang yang telah mereka kenal sebelumnya, seperti yang memiliki hubungan profesional, dan mereka jarang mencari target korban dari orang asing. Kecenderungan pada wanita juga ditemui bahwa mereka dapat men-stalk wanita lainnya, berbeda dengan stalker pria yang secara umum hanya mencari korban dari lawan jenisnya saja. Di dalam “study of women who stalk” Purcell, Pathe dan Mullen, menyimpulkan terdapat 2 variabel psikiatris utama yang membedakan perilaku ini pada pria dan wanita, yaitu dalam motif yang mendasari dan dalam hal pemilihan korban. Pada wanita motif yang didapati adalah untuk mendapatkan keintiman dengan para korbannya, yang biasanya adalah orang yang telah ia kenal sebelumnya, korban biasanya adalah yang bekerja pada bidang pelayanan sosial seperti dokter, perawat, terapis, dan konselor, namun tetap tidak menutup kemungkinan pada pria didalam bidang yang lain. selain itu pada wanita jarang ditemukan bentuk-bentuk ancaman dan juga kekerasan yang dilakukan terhadap korbannya, berbeda pada pria yang dalam aksinya seringkali ditemukan tindakan mengancam dan juga kekerasan terhadap korbannya.

Sumber:
http://en.wikipedia.org/wiki/Stalking
http://www.trutv.com/library/crime/criminal_mind/psychology/stalkers/5.html

Baca terusannya......

Sunday, May 3, 2009

Tipe-Tipe Stalker (Penguntit)

Stalker atau dalam bahasa Indonesia adalah Penguntit merupakan perilaku yang sangat meresahkan bagi para korbannya, bayangkan diri anda diikuti oleh seseorang tanpa sepengetahuan anda pastilah keadaan ini sangatlah mengganggu bagi anda sekalian. Menurut Dr. J. Reid Moley yang merupakan seorang penulis dari Violent Attachments dan yang juga merupakan editor dari The Psychology of Stalking mengatakan bahwa bentuk cinta patologis biasa muncul pada kaum pria, biasanya dimulai pada dekade keempat usia mereka.Yang mana gejalanya selalu diikuti oleh gejala sebagai berikut:

1. setelah pertemuan pertama, Stalker akan mengembangkan perasaan seperti kegila-gilaan dan menempatkan objek cinta mereka pada bentuk pemujaan.
2. Sang penguntit (stalker) kemudian akan memulai pendekatan kepada objek namun ketika hubungan itu terjadi stalker akan membuat perilaku mereka merujuk pada penolakan terhadap sang objek.
3. penolakan yang ia lakukan kemudian akan menimbulkan delusi dan kemudian stalker tersebut akan memproyeksikan persaannya kepada sang objek dalam bentuk keyakinan bahwa “dia mencintai saya juga”.
4. penguntit tersebut akan selalu mengembangkan sebuah bentuk kemarahan untuk menyembunyikan rasa malunya yang merupakan bahan bakar dari pengejaran terhadap objeknya. Sekarang ia ingin mengontrol kepada bentuk gangguan atau bahkan kekerasan.
5. Stalker memiliki keharusan dalam menyalurkan fantasi narsistisnya.
6. kekerasan adalah hal yang paling sering dilakukan ketika objek cinta dituduh bersalah sebagai bentuk dari imajinasi akan pengkhianatan.

Meloy mengatakan bahwa setiap stalker adalah seorang psikopat yang dengan kata lain mereka memiliki taraf empati pada tingkat yang rendah atau telah kehilangan akan empati itu sama sekali. Hubungan yang mereka jalani cenderung menjadi sadistis dikarenakan berdasarkan akan keinginan untuk berkuasa atas yang lainnya. Dikatakan juga bahwa hal ini berhubungan dengan kedekatan awal masa kehidupan yang mereka alami, dimana mereka tidak mendapatkan kasih sayang yang baik dari oragn-orang terdekatnya (keluarga). Meloy juga mengatakan bahwa seorang psikopat secara biologis memiliki predisposisi untuk melakukan aktivitas antisosial karena mereka miliki sistem saraf otonomik yang hiper-reaktif. Kejahatan atau eksploitasi terhadap orang lain bersifat sangat menarik untuk mereka. Yang dengan demikian maka berarti mereka termotivasi untuk melakukan sesuatu yang menegangkan sistem saraf mereka dan mereka tidak memiliki perasaan saat menyakiti orang lain seperti halnya orang normal.

Menurut data Departemen Hukum di Amerika, selama setahun saja mereka telah menerima laporan bahwa 1,5 juta orang disana telah di-stalking dan lebih dari 2/3nya adalah perempuan. Juga fakta bahwa 90% wanita dibunuh oleh suami atau pasangan mereka dengan sebelumnya telah di-stalking. Perbandingannya adalah 1 diantara 12 wanita dan 1 diantara 45 pria merupakan korban stalking di Amerika. Diramalkan kira-kira 10 juta orang akan menjadi korban stalker dimasa depan. Sedangkan diantara para selebritis dan orang-orang kelas atas sendiri, satu perusahaan keamanan telah mengumpulkan lebih dari 300.000 komunikasi yang berhubungan dengan kegiatan stalking.

Sementara banyak stalker hanya melakukan kejahatan dalam bentuk ancaman, hanya sedikit persentase yang membuktikan mereka melakukan ancaman mereka, menghancurkan properti dan menyakiti hewan peliharaan. Dengan meningkatnya popularitas Internet, Cyberstalking telah menjadi suatu bentuk baru dari lahan yang berbahaya. Banyak Stalker yang sebelumnya telah memiliki catatan kriminal dan juga menunjukkan adanya tindak kekerasan yang pernah dilakukan, gangguan mood, gangguan kepribadian atau juga psikosis. Setidaknya setengah dari stalker melakukan bentuk ancaman kepada korban mereka, dimana peningkatan kemungkinan untuk tindakan kekerasan semakin terjadi. Frekuensi dari tindaka kekerasan berkisar 25% sampai 35%, dengan kebanyakan tindak kekerasan terjadi diantara orang-orang yang sebelumnya memiliki hubungan yang romantis dimasa yang lalu.

Gangguan buruk ini terjadi karena Stress emosional yang hebat kepada target yang akan menjadi korban. Beberapa orang telah kehilangan pekerjaan mereka atau secara terpaksa mengganti identitas diri mereka dan berpindah. Kemungkinan mereka mendapatkan suatu bentuk kecemasan yang ekstrim, gangguan tidur dan juga depresi. Beberapa bahkan melakukan bunuh diri. Jika mereka memiliki anggota keluarga atau anak yang berada dibawah ancaman, mereka akan merasa bersalah dan memiliki rasa takut yang berlebihan kepada orang lain. walaupun kecelakaan ini dilaporkan, namun penahanan secara hukum hanya dapat dilakukan dalam lingkup kecil, terhadap gangguan yang bersifat verbal. Pada kenyataannya beberapa hukum telah digunakan sebagai suatu resiko dasar dari bahaya atau suatu bentuk pola kejadian sebelum perlindungan secara formal ditawarkan.

Tidak mudah untuk memprediksi siapa yang menjadi stalker. Mungkin saja ia adalah bekas pacar atau mungkin juga seseorang biasa yang telah menentukan targetnya dalam sebuah pertemuan dengan calon korban. Juga mungkin tetangga yang memiliki sikap permusuhan, atau seorang penjaga toko video dan mungkin juga hanya seseorang yang hanya pernah melihat korbannya di jalanan. Bahkan seseorang yang tidak memiliki obsesi terhadap tindakan pelecehan sebelumnya dapat menjadi pelaku dalam jenis kejahatan ini. Menurut Janet S. Rulo-Pierson, seorang konselor rumah sakit, hal ini dikarenakan mereka merubah secara perlahan dunia kenyataan ke dunia imajinasi yang ternyata lebih memberikan kenyamanan dan juga kekuatan.

Beberapa sifat-sifat stalker telah dikembangkan dan menurut Dr. Michael Zona dan koleganya dari University Of Southern California School Of Medicine, Stalker muncul dalam 3 varietas dengan corak jahat dalam stalking yang terbagi dalam 4 kategori penting, sebagai berikut:

1. Obsesi Sederhana
Hal ini kebanyakan terjadi pada seorang pria dengan seorang wanita, dimana keduanya pernah berada pada keadaan keintiman seksual.

2. Cinta Obsesional
Cinta-obsesional yang dimiliki seorang Stalker cenderung kepada pemikiran tentang seseorang selebritis atau seseorang yang telah ia lihat dari kejauhan dan kemudian dia (stalker) mengembangkan kepercayaan yang tidak realistis didalam kepalanya bahwa sang target memiliki persetujuan untuk menjalin hubungan dengan dirinya.

3. Erotomania
Seseorang yang mengalami keadaan ini memiliki tingkat obsesi yang lebih ekstrim dikarenakan mereka percaya dengan yakin bahwa korban mereka memiliki perasaan cinta kepada mereka.

4. Pencari Korban Secara Acak
Menuntut gangguan dan perilaku stalking ketika tidak ada, perilaku ini biasanya terjadi pada seseorang yang memiliki gangguan kepribadian histrionik.

Metode lain yang digunakan untuk kategorisasi stalker datang dari panduan klasifikasi tindak kejahatan milik F.B.I, sebagai berikut:

1. Non-domestic stalker, yaitu mereka yang melakukannya dengan tidak memiliki hubungan personal dengan korban.

2. Terorganisir, mereka yang melakukannya atas dasar kalkulasi dan tindak agresi yang terkendali.

3. Delusional, mereka yang melakukannya atas dasar keyakinan sesat seperti erotomania

4. Domestic stalker, mereka yang pernah memiliki hubungan dengan korban dan merasa termotivasi untuk melanjutkan hubungan, hal ini merupakan dasar dari 60% perilaku stalking dan bentuk agresi ini akan berlanjut pada bentuk kekerasan.

Stalker cenderung menjadi tidak terkendali atau dibawah kendali, tetapi selalu lebih cerdik dari pada bentuk kriminal yang lain. mereka sering kali memiliki pengalaman gagal dalam sebuah hubungan. Mereka juga cenderung untuk menyakiti korban mereka dan juga secara seksual. Mereka juga selalu mengidealisasikan orang lain, dan cenderung meminimalisasi apa yang mereka kerjakan untuk terlihat. Proyek yang bermotif kepada orang-orang biasanya tidak memiliki dasar yang benar, dan merasionalisasi bahwa target memang pantas untuk menerima gangguan dan juga kekerasan.

Demikian, stalker melihat aksi mereka dengan kerangka kerja yang berdasarkan pada waham dan mereka juga tidak membutuhkan bantuan. Bahkan sebagian melakukannya dengan cara yang profesional. Satu pelaku kasus yang ada dalam suatu kejadian sebenarnya dapat diperbaiki dengan menyerahkannya kepada terapis.

Sumber



Baca terusannya......

Friday, April 17, 2009

Psikologi Di Indonesia

sepanjang sejarah dunia psikologi di Indonesia, ternyata terlihat bahwa bangsa ini banyak sekali mengadopsi teori-teori psikologi yang berasal dari luar negeri. sedangkan teori yang datang dari luar itu didapat dari kebudayaan dan bangsa yang berbeda sama sekali dengan Indonesia. kembali keawal dimana psikologi dengan segala usaha mencari suatu teori yang bersifat universal, dengan artian bahwa psikologi mencari dimana letak persamaan dari semua manusia tanpa memandang suku, ras dan segala macamnya. waktu telah membuktikan bahwa memang semakin dekat saja dunia psikologi dengan semua itu. proses mengadopsi teori asing di Indonesia jelas telah mengalami penyesuaian, tetapi sebaik-baiknnya penyesuaian yang telah dilakukan adalah tetap tidak sesuai dengan pondasi awalnya.

kalau dilihat Indonesia sendiri bukanlah satu bangsa yang bersifat sama, bahkan Indonesia sendiri dibangun atas dasar perbedaan yang disatukan. bangsa Indonesia adalah bangsa yang kaya dikarenakan banyaknya kebudayaan dan suku bangsa yang tergabung didalamnya. psikologi sendiri lahir pertama kali dari dunia barat dan menjadi suatu cabang ilmu pengetahuan yang tergolong muda jika dibandingkan dengan cabang ilmu-ilmu yang lain. dengan bertujuan mampu mempelajari apa yang merupakan bagian mental manusia yang mendasari setiap perilaku yang ditimbulkan oleh manusia. berbagai macam teori bermunculan sejak abad ke-19, semua kebanyakan berasal dari dunia barat, yang dimana dasar dalam menentukan valid atau tidaknya teori tersebut berdasar pada masyarakat barat sendiri yang memiliki pengalaman, budaya, bawaan dan juga lingkungan yang jauh berbeda dengan manusia-manusia di Indonesia. aplikasi teori psikologi pada dasarnya dapat menjadi berbagai macam hal seperti membuat alat tes psikologi, penentuan segala macam kebijakan yang berhubungan dengan masyarakat luas dan juga perkiraan-perkiraan terhadap segala kemungkinan yang mungkin muncul pada perilaku masyarakat. jika sesuatu yang tidak sesuai dengan keadaan diri masyarakat sendiri lalu dijadikan suatu bentuk tindakan maka yang terjadi adalah suatu kekacauan diakibatkan tidak cocoknya antara perkiraan yang disangkakan berserta tindakan yang dimunculkan dengan keadaan dilapangan sendiri.

beberapa psikolog dalam negeri memang telah melakukan beberapa macam penelitian sejak lama, namun memang tidak sebanyak yang dilakukan oleh dunia barat dikarenakan keadaan bangsa Indonesia sendiri yang masih merupakan negara berkembang, yaitu negara yang masih mencari bentuknya, dimana kemerdekaan bangsa ini bahkan belum berusia 1 abad. memang kenyataannya terlalu muluk-muluk jika kita menuntut perkembangan dunia psikologi di Indonesia agar setara dengan perkembangan dunia psikologi di Barat dan juga negara-negara maju lainnya, hal ini jelaslah tidak mungkin melihat pengalaman dan juga jumlah tenaga ahli yang berada di negara tercinta ini, selain itu juga fokus pemerintah yang masih pada terletak pada pembangunan kekuatan dasar negara mengakibatkan kurangnya penelitian yang dilakukan dalam berbagai macam hal bidang ilmu pengetahuan.

Universitas yang diharapkan mampu menjadi lembaga Independen yang akan memberikan penerapan ilmu pengetahuan yang dikajinya kepada masyarakat, terlepas dari Universitas negeri dan swasta, rasanya tidak terlalu banyak memberikan sumbangan kepada masyarakat dari ilmu pengetahuan yang dikaji di dalamnya. dalam dunia psikologi sendiri juga tercermin masih kurangnya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan psikologis dan pengetahuan tentang psikologi, yang seharusnya diperkenalkan oleh setiap orang yang tergabung sebagai anggota dalam suatu fakultas psikologi, baik itu mahasiswa dan dosen dengan segenap jajarannya. dengan demikian maka Universitas tidak melaksanakan fungsinya sebagai badan yang bergerak dalam hal ilmu pengetahuan secara maksimal.

masyarakat Indonesia sendiri terbagi atas berbagaimacam kelas, bahkan didalam negeri ini masih ada yang hidup dengan cara yang paling tradisionil hingga yang sudah ultra modern. sungguh sangat mejemuk keadaan disini, ketidak rataan pembangunan telah menjadi masalah yang klasik dialami oleh bangsa ini. bukan hanya pada bidang ekonomi dan sosial melainkan juga pada hal ilmu pengetahuan. tidak semua orang memiliki akses terhadap sumber ilmu tersebut, ditambah dengan beberapa bentuk kebudayaan yang menghambat terjadinya revolusi pengetahuan pada diri masyarakatnya menjadi suatu bentuk masalah tersendiri bagi arus perkembangan bangsa yang diharapkan menjadi lebih baik dari waktu ke waktu.

penyisipan ilmu psikologi seharusnya dapat dilakukan dengan baik pada jaman arus informasi tanpa henti seperti sekarang ini dimana media penyebaran informasi sudah sangat banyak dan beragam. pemanfaatan media komunikasi adalah bentuk yang baik dalam menyalurkan pengetahuan dan pengajaran bagi masyarakat, walau dalam melakukannya terjadi persaingan dengan berbagai topik informasi yang lainnya. edukasi bagi masyarakat adalah tanggung jawab bersama dengan maksud memberikan pengetahuan yang berguna untuk mewujudkan kehidupan yang lebih baik.

dalam hal ini psikologi hanyalah salah satu dari sekian banyak ilmu pengetahuan yang seharusnya hadir diantara masyarakat, dikarenakan kehadirannya mampu memberikan suatu perubahan yang berarti bagi cara hidup masyarakat luas. dengan keadaan sekarang dimana bangsa ini berada pada masalah multi dimensi, maka kesadaran masyarakat pada solusi permasalahan haruslah diterima dengan baik dan dipahami dengan betul, sebagai suatu cara untuk mengakhiri krisis tersebut. yang diharapkan adalah peran serta media dan masyarakat sendiri untuk melakukan suatu gerakan baru yang berdasar pada altruisme dan bukan egoisme semata. dimana semua orang menginginkan kebaikan bagi orang lain dan bukan hanya tertuju kepada kebaikan diri sendiri, sehingga dengan demikian maka dengan pengorbanan yang berlangsung akan terwujud suatu bentuk masyarakat yang selalu dicita-citakan.

Baca terusannya......

Thursday, February 26, 2009

Manusia Indonesia ala Mochtar Lubis

Buku Manusia Indonesia adalah sebuah buku yang diangkat dari ceramah Mochtar Lubis di Institut Kesenian Jakarta (IKJ) pada tanggal 6 April 1977. didalamnya menceritakan sifat-sifat yang melekat pada manusia Indonesia, dikatakan dalam 6 buah sifat yaitu pertama, munafik atau hipokrit. Kedua, enggan bertanggung jawab atas perbuatannya. Ketiga, sikap dan perilaku yang feodal. Keempat, masih percaya pada takhayul. Kelima, artistik. Keenam, lemah dalam watak dan karakter. Di Indonesia nama Mochtar Lubis telah dikenal sebagai seorang pengarang dan jurnalis. Sejak zaman pendudukan Jepang ia telah dalam lapangan penerangan. Ia turut mendirikan Kantor Berita ANTARA, kemudian mendirikan dan memimpin harian Indonesia Raya yang telah dilarang terbit. Ia mendirikan majalah sastra Horizon bersama-sama kawan-kawannya. Pada waktu pemerintahan rezim Soekarno, ia dijebloskan ke dalam penjara hampir sembilan tahun lamanya dan baru dibebaskan pada tahun 1966. Serta beliau sering kali mendapat penghargaan atas karya-karya tulisnya.

Segala tuduhan yang dijadikan oleh Mochtar Lubis pada dasarnya hanyalah merupakan sebuah stereotip tentang keadaan manusia Indonesia yang tergeneralisasi. Namun stereotip itu sendiri tidaklah seluruhnya benar dan juga tidak seluruhnya salah. Stereotip terbentuk dari adanya pengalaman dan juga pengamatan sehingga melekat pada manusia Indonesia, walau dalam sisi tidak benarnya, stereotip diperkuat oleh prasangka dan juga generalisasi. Buku ini sudah ada sejak tahun 1977, namun kenapa ketika penulis membaca dan mengamati ternyata isinya sungguh cukup relevan dengan keadaan lingkungan masyarakat Indonesia saat ini. Padahal Muchtar Lubis sendiri juga mengatakan dalam tanggapan atas tanggapan dalam buku ini tentang subjektifitas dalam pemikirannya, setelah menerima kritik dan masukkan dari bapak psikologi Indonesia, Sarlito Wirawan, tentang tidak bisanya menggeneralisasi penduduk Indonesia yang pada dasarnya bersifat majemuk dari berbagai aspek. Ditambahkan lagi oleh Sarlito Wirawan bahwa profil kepribadian tentang manusia Indonesia yang diungkapkan oleh Mochtar Lubis hanya didasari pengamatan-pengamatannya sendiri tanpa didasari oleh data-data objektif yang demikian segala tuduhan itu tidak memberi gambaran persis berapa persen sebenarnya dari manusia Indonesia yang dimaksud oleh Mochtar Lubis.

Ciri manusia Indonesia yang pertama menurut Mochtar Lubis adalah munafik atau hipokrisi. Dalam ciri yang pertama ini dijelaskan bahwa kemunafikan merupakan sifat manusia Indonesia sebagai contoh, negara kita dipimpin oleh manusia-manusia beragama yang memakai simbol-simbol agama entah itu pada nama (seperti gelar) atau aksesoris pakaian, namun coba diperhatikan bahwa masih ditemukan tempat-tempat prostitusi baik itu didalam kota maupun diluar kota, dan yang parahnya lagi mereka tumbuh subur bagai jamur. Pidato-pidato tentang kebajikan dan kebijaksanaan ada dimana-mana, diucapkan dan didengarkan, namun korupsi masih saja merajalela. Manusia Indonesia juga terkenal bersikap alim hanya dilingkungannya sendiri, jika sudah datang keluar negeri maka mereka akan segera mencari kepuasan seperti pergi ke-nightclub dan prostitusi. Manusia-manusia memakai topeng dengan tujuan mencari selamat sendiri, memakai prinsip terhadap atasan dengan sikap ABS (asal bapak senang), penggunaan kata bapak yang menurut Mochtar Lubis bukanlah kata panggilan yang cocok kepada atasan dikarenakan yang memanggil bapak pastilah anak dan anak berada dibawah kuasa bapak yang berkuasa penuh. Yang demikian tadi adalah yang ada pada jaman Mochtar Lubis yaitu 1977 kebelakang, dan kini mari coba kita bandingkan dengan keadaan bangsa Indonesia kini. Rasa-rasanya pada sebagian titik tidaklah berubah seperti korupsi sepertinya baru beberapa tahun terakhir ini saja gencar dilakukan berarti kira-kira sudah lama juga bangsa ini terbelit masalah korupsi pada para pengurus negaranya. Mungkin yang kini berbeda adalah keberadaan klab malam di Indonesia sudah berstandar Internasional sehingga para pengunjung sudah tidak perlu lagi lari keluar negeri untuk menikmati semua fasilitas hedonis itu. Kemunafikan pada manusia Indonesia ternyata pada masa sekarang sudah merambak pada berbagai macam aspek, banyak sekali kalau kita perhatikan mulut-mulut manis yang mengumbar janji, mengatakan yang kebalikan dari apa yang akan dilaksanakan, topeng-topeng kepalsuan, bagai penebar kebaikan pada tampak luar yang berhati busuk dan berwatak yang buruk didalamnya. Sama seperti milik Mochtar Lubis semua ini hanyalah stereotip, benarkah atau tidak benarkah semua hanyalah tuduhan tapi beralasan. Yang jelas dalam masyarakat kita sekarang masih ada juga mereka-mereka yang tidak bersifat munafik, mereka yang tidak hipokrisi dan masih ada mereka yang baik secara luar dan dalam.

Lalu pada ciri yang kedua adalah enggan bertanggung jawab atas perbuatannya, kata “bukan saya” merupakan suatu kata penyelamat dalam menghadapi sesuatu yang tidak baik atau berakibat buruk. Lepas dari tanggung jawab dengan mengatakan “saya hanya melaksanakan tugas dari atasan” merupakan pembelaan paling ampuh dari suatu kesalahan yang dilakukan. dalam Manusia Indonesia, Mochtar Lubis menyebutkan korupsi yang ada di Pertamina sebagai contoh nyata, dimana pada saat itu ratusan juta dollar uang negara dikorupsi, belum lagi pelanggaran-pelanggaran yang telah dilakukan oleh jajaran Pertamina mulai dari Presiden Direktur hingga ke lapisan bawah, namun tidak seorangpun yang dituntut. Kalau dilihat berarti kebobrokan dalam tubuh Pertamina sudah berlangsung sekian lama, sampai beberapa waktu lalu semua terbongkar, walau belum tuntas. 30 tahun lebih berarti memang Pertamina menjalankan semua praktek kotornya. Selain itu manusia Indonesia jika menerima sesuatu yang bersifat mengangangkat derajatnya seperti penghargaan dan pujian maka akan langsung diterima, walau mungkin salah sasaran dalam pemberiannya. Manusia Indonesia menurut yang digambarkan oleh Mochtar Lubis tidak akan sungkan-sungkan untuk tampil kedepan menerima bintang, tepuk tangan, surat pujian, piagam penghargaan, dan sebagainya. Dari ciri yang kedua ini memang sudah sangat menyedihkan apa yang terjadi pada masa tahun 1977 kebelakang tersebut. namun jika penulis samakan dengan masa tahun 2009, sepertinya kenyataan ini masih tidak berubah. Lihat saja para pelaku korupsi yang saling salah-menyalahkan, tidak mau mengaku dan melemparkan tanggung jawab kepada pihak-pihak lain, sampai akhirnya diketahui bahwa korupsi yang terjadi berjalan secara “Berjamaah”, begitulah kiranya ditulis dalam beberapa koran.

Ciri yang ketiga adalah jiwa Feodal yang masih tertanam subur dalam diri Manusia Indonesia. Dikatakan dalamnya bahwa nilai-nilai Feodalisme merupakan warisan dari negara-negara kerajaan yang ada pada jaman dahulu di nusantara, lalu diambil alih oleh para penjajah, terjadi revolusi kemerdekaan yang sebenarnya bertujuan untuk menghilangkan feodalisme yang ada pada diri manusia Indonesia. Sikap-sikap feodal ini bersifat destruktif dikarenakan seorang bawahan akan menganggap mereka yang lebih tinggi dari mereka adalah benar dalam setiap tindakannya, ketidak bolehan dalam menyangkal walau itu salah sekalipun merupakan salah satu keburukan dari feodalisme, selain itu juga menghancurkan harkat dan martabat manusia sebagai manusia yang sama derajatnya dengan manusia lain. seperti yang ada dalam jaman sekarang dimana seorang bawahan dikatakan tidak sopan jika menegur atasan karena alasan yang benar, merupakan suatu bentuk dari feodalisme, tidak didengarnya suara mereka yang ada dibawah sebagai suara manusia juga merupakan bentuk nyata dari feodalisme yang terjadi pada manusia Indonesia. Hanya saja kerajaan yang dimaksud sudah bukan raja lagi sebagai pemimpin namun raja-raja tersebut sudah diganti namanya menjadi presiden, menteri, jenderal, presiden direktur dan lainnya. Nyata sekali bahwa feodalisme menghambat proses perkembangan manusia dikarenakan tidak sampainnya kritik terhadap pemimpin dikarenakan 2 hal yaitu bawahan yang segan dalam melakukannya dan pemimpin yang tidak mau mendengar suara dari bawah.

Ciri keempat adalah Manusia Indonesia masih percaya takhayul, sepertinya sudah berlangsung lama semua ini, tak perlu dipertanyakan lagi tentang apa yang terjadi pada masa 1977 kebelakang tersebut. coba saja lihat keadaan sekarang, siaran tv menampilkan segala macam sihir, kuntilanak, jailangkung, pocong, genderuwo, dan aksi dukun-men-dukun. Belum lagi ditambah film-film bioskop yang menampilkan segala macam judul berbau setan dan makhluk halus, dan film-film layar lebar tersebut dibuat atas dasar adanya permintaan pasar terhadap jenis film misteri horor. Yang terbaru dari takhayul ini adalah kisah dukun-dukun cilik yang dapat menyembuhkan sembarang penyakit, mereka kedapatan pasien sampai puluhan ribu orang dalam sehari. Sungguh mengejutkan memang dalam keadaan dunia yang sudah modern dan dikuasai oleh iptek seperti ini masih ada mereka yang mengharapkan keajaiban yang tidak mungkin dijelaskan oleh rasio. Kepercayaan terhadap segala macam keramat-keramat juga masih ada di Indonesia, dan para pelakunya juga sebagian adalah manusia-manusia berijazah yang dikatakan berpendidikan itu. Namun dalam tanggapannya penulis setuju dengan Sarlito Wirawan, yang mengatakan dalam taggapan terhadap ceramah Mochtar Lubis, bahwa mengenai mitos dan mistik bukanlah monopoli manusia Indonesia semata, melainkan suatu sifat hakiki manusiawi, yaitu untuk memenuhi kebutuhan akan rasa aman (security need). Selama manusia masih belum bisa mengatasi bahaya-bahaya dan ancaman-ancaman dengan dengan kemapuan dan ilmu penghetahuannya sendiri, selama itu manusia masih akan mencari pelindung terhadap mitos dan mistik. Dalam hal manusia Indonesia Sarlito Wirawan mengatakan bahwa gejala mitos dan mistik ini lebih banyak terdapat di kalangan “angkatan tua”. Dikarenakan mereka tidak menerima pendidikan yang layak, namun karena jasa-jasanya pada masa revolusi maka mereka harus mengisi kedudukan penting dalam pemerintahan. Dengan sendirinya kemampuan dan ilmu yang mereka milik belumlah cukup untuk memegang jabatan itu dan mereka masih merasa kurang “secure” dalam memegang jabatan mereka itu, maka larilah mereka kepada praktek-praktek perdukunan dan mistik. Dikalangan angkatan yang lebih muda seperti para sarjana atau mahasiswa, terlihat bahwa praktek-praktek mistik sudah jauh berkurang, meskipun belum dapat dikatakan sudah hilang sama sekali. Sarlito Wirawan yakin dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dinegara kita, maka mitos dan mistik pun akan makin berkurang, demikianlah apa yang dikatakan oleh Sarlito Wirawan dalam tanggapannya terhadap manusia Indonesia ala Mochtar Lubis. Tapi sepertinya pernyataan dari Sarlito Wirawan tampaknya meleset, kenyataannya di Indonesia hal mistik malah semkin merebak dari hari-ke-hari, hal ini ditunjukkan dengan munculnya klinik-klinik “spiritual healing” (yang bagi penulis hal ini merupakan suat modernisasi dari praktek perdukunan dengan menggunakan bahasa inggris dengan nama “spritual healing”). Ditambah lagi ilmu psikologi kini memiliki mazhabnya yang keempat yaitu psikologi transpersonal yang didalamnya membahas dimensi sprirtual manusia termasuk hal-hal mistik. Namun dalam satu sisi memang benar kegemaran terhadap mistisme ini bukanlah sekedar monopoli dari manusia Indonesia saja melainkan juga pada masyarakat barat dengan film-film berbau exorcism, vampir, dracula, zombi, sihir-sihir seperti Harry Potter dan lain sebagainya. Nampaknya mungkin semua manusia sudah mulai tidak rasional lagi, dan menikmati hal tersebut, yang dimungkinkan terjadi karena semakin sedikitnya rasa aman yang dapat dimiliki pada jaman sekarang ini pada sebagian masyarakat yng mengakibatkan mengambil jalan irasional untuk mendapatkan kebutuhannya akan rasa aman tersebut.

Ciri kelima dari manusia Indonesia adalah artistik, berjiwa seni, hal ini memang sudah dapat terlihat dari kayanya budaya daerah yang ada di Indonesia yang dalam tiap-tiap daerahnya memiliki keseniannya masing-masing. Kesenian merupakan hasil dari kebudayaan, dengan demikian maka masyarakat Indonesia memang memiliki jiwa berkarya dan mencintai keindahan. Belum lagi ditemukan peninggalan-peninggalan bangunan kuno, seperti candi-candi yang menakjubkan, menandakan bahwa manusia Indonesia memiliki peradabannya sendiri. bahkan dimasa sekarang ini musik Indonesia dikabarkan telah “menjajah” negeri tetangganya Malaysia, dengan adanya suatu bentuk pemboikotan terhadap radio swasta di Malaysia, dikarenakan lebih sering memutar lagu artis dari Indonesia dibandingkan lagu dari artis lokalnya sendiri. selain itu banyak juga hasil karya asli anak bangsa yang sudah diekspor keluar negeri dan kebanyakan dari hal itu adalah karya-karya kesenian. Jadi kalau masalah seni bangsa ini tidak perlu takut, selama masih ada generasi penerus yang mau mempertahankannya maka kesenian tradisional ini akan selalu terjaga kelestariannya.

Ciri yang keenam adalah memiliki watak dan karakter yang lemah. Tidak kuatnya manusia Indonesia dalam mempertahankan atau memperjuangkan keyakinannya merupakan bahasan yang menjadi inti ciri keenam manusia Indonesia. Mochtar Lubis mengatakan hal ini ditandai dengan adanya pelacuran-pelacuran Intelektual dalam banyak bidang. Pelacuran intelektual sebagai contohnya adalah manipulasi hasil yang ditujukan agar dapat mempertahankan suatu penguasa lain, seperti seseorang ahli pangan mengatakan bahwa tidak berbahaya menggunakan suatu produk dari produsen tertentu, padahal produk yang dijual mengandung zat yang berbahaya bagi pengkonsumsi, namun karena sudah diberikan upah, maka ahli tersebut menutupi kenyataan dan mengatakan bahwa tidak ada yang salah pada produk tersebut, sehingga dikatakan sebagai pelacuran intelektual. Yang terjadi kini dalam pemerintahan adalah dengan adanya kebijakan-kebijakan yang bersifat menyengsarakan rakyat, para ahli yang bersangkutan pada bidangnya masing-masing tidak melakukan apa-apa walaupun tahu pada kenyatannya bahwa kebijakan yang ada itu salah, sehingga para ahli itu dapat dikatakan sebagai pelacur intelek. Tidak kuatnya seseorang dalam mempertahankan kebenaran akan membawa keburukan bagi masyarakat luas, dikerenakan tanpa kebenaran maka yang terjadi adalah pembolak-balikkan yang menuju pada ketidak jelasan, sehingga yang terjadi adalah bergesernya nilai-nilai dalam masyarakat kearah yang negatif.

Keenam ciri ini memang berkesan menjelek-jelekkan bangsa sendiri, namun dengan ini semua diharapkan tidak menjadi suatu bentuk kebencian terhadap bangsa sendiri, melainkan sebagai cermin dalam bertindak. Walau semua penjabaran Mochtar Lubis adalah subjektif dan tidak mewakili, namun sepertinya kalau dipikirkan ada kebenaran dalam pengamatan yang telah ia lakukan. Menurut ST Sularto (dalam Kompas) pernah ketika tahun 1982 Mochtar Lubis diminta merefleksikan kembali ”manusia Indonesia”, dengan tegas ia mengatakan tidak ada perubahan. Makin parah. Andaikan permintaan itu disampaikan kembali, di saat Mochtar Lubis sudah tiada (meninggal 2 Juli 2004), niscaya ia menangis di alam baka. Bangsa Indonesia bukanlah bangsa yang kerdil, bukan bangsa yang lemah, namun bangsa yang belum menunjukkan taringnya kepada dunia. Diharapkan pada masa yang akan datang manusia Indonesia menjadi bangsa yang besar, yang berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah dengan bangsa-bangsa lain, walau sekarang sudah demikian adanya namun rasanya masih ada sebagian dari manusia-manusia Indonesia yang tidak merasakan hal yang sama. Semoga dari tulisan yang jauh dari sempurna dan membutuhkan banyak kritik ini dapat menjadi masukkan bagi saudara-saudara sebangsa dan setanah air.

Baca terusannya......

Sunday, February 15, 2009

Melihat Manusia dari 3 Spektrum

Sering kali kita melihat manusia lain yang ada dalam kehidupan kita dengan cara pandang kita yang penuh dengan prasangka, bercampur dengan segala macam tuduhan dan juga penyelewengan dari kenyataan. Bukannya tidak boleh kita menilai orang lain namun setidaknya semua tuduhan itu haruslah didasari oleh segala macam kebenaran dan tidak bertujuan untuk membuka belang orang lain, jika hanya untuk mencari kesalahan orang lain maka bercerminlah, dan kita yang sadar bahwa mengetahui kekurangan sendiri dibandingkan mencari kesalahan orang lain akan jauh lebih beruntung, dikarenakan dengannya kita akan dapat menjadi pribadi yang lebih baik dikarenakan dapat mengetahui kekurangan dan kelebihan diri sendiri yang dengannya dapat melakukan tindakan-tindakan yang berguna untuk menjadi manusia yang lebih baik dikemudian hari.

Manusia jelas bukanlah makhluk yang dapat berdiri sendiri, manusia merupakan makhluk sosial, namun dilain sisi juga merupakan makhluk individu yang hidup di dalam alamnya. Berdasarkan pengakuan dari manusia sendiri mengenai keberadaannya dalam susunan jagad raya ini adalah sebagai makhluk yang berakal dan sempat mengakui bahwa dirinya adalah makhluk yang paling sempurna diantara makhluk-makhluk lain dikarenakan akal dan pikiran mereka yang mampu digunakan untuk menentukan jalan mereka sendiri (free will). diatas bumi ini jelas manusia menjadi makhluk yang nomor satu, jika dibandingkan dengan makhluk lainnya, pembedanya adalah akal pikiran mereka yang dapat merubah keadaan mereka sesuai dengan kehendak bebas mereka, kemampuan untuk berkembang yang dapat diwariskan dari generasi ke generasi membuat mereka dapat hidup dengan teknologi serta pengetahuan yang selalu dibanggakan.

Namun ditengah-tengah kesombongannya, manusia juga merupakan makhluk yang sangat bergantung terhadap alam. Jelas manusia tidak dapat bertahan hidup tanpa alam, seperti udara yang mereka butuhkan untuk bernapas, lalu air untuk mereka minum, alam juga menyediakan makanan bagi manusia, matahari dengan sinarnya yang memberikan kehangatan, gravitasi yang menjaga kedudukan manusia diatas bumi sehingga tidak terpental jauh keangkasa luar karenanya. Tanpa itu semua manusia tidak dapat hidup dan tidak mampu bertahan serta berkembang biak, dari sini maka dapat diketahui bahwa manusia sangat bergantung terhadap alam. Diketahui juga bahwa alam tidaklah bergantung barang sedikitpun terhadap manusia, kehadiran manusia dewasa ini bagi alam cenderung hanya sebagai perusak, mengeksploitasi alam guna mendapat keuntungan darinya tanpa pernah membalas kebaikan yang telah diberikan alam kepada manusia. Manusia menambang, menggali, meruntuhkan, menebang, membakar, yang dari kesemuanya mengakibatkan kerusakan bagi alam sendiri dan keuntungan bagi manusia. Walau tidak semua manusia melakukan kerusakan terhadap alam, dan masih banyak ditemui manusia-manusia yang mau mengabdikan kesementaraannya terhadap alam dalam kehidupan yang fana ini.

Setiap manusia pastilah memiliki kecenderungan untuk menjadi jahat ataupun baik, berbagai macam faktor jelas mendukung kualitas manusia entah itu dari dalam (internal) atau dari luar (eksternal). Manusia terlahir dengan bakat yang dibawanya yang diperoleh dari kedua orang tuanya. Manusia adalah makhluk yang paling sulit diterka dalam segala tindakannya, karena selain akal mereka juga memiliki perasaan atau hati. Bentuk sulit diterkanya manusia terlihat dari perubahan jaman yang terjadi pada lingkungan hidup manusia, manusia yang berkelompok atau yang biasa disebut sebagai masyarakat bersifat dinamis dalam segala hal, tidak ada yang bertahan selamanya, semua berubah, sehingga ketetapan yang ada adalah perubahan itu sendiri.

Hal yang telah dituliskan diatas adalah manusia sebagai makhluk yang sama dengan manusia lain. maksud dalam tulisan ini adalah memberikan masukan dalam suatu cara untuk mengartikan manusia-manusia yang ada di dalam kehidupan kita. Sering kali kita tidak mengerti dengan maksud dari tindakan-tindakan yang dilakukan oleh orang yang ada disekitar kita, sehingga kita merasa heran ataupun bingung dalam menentukan sikap terhadap mereka, namun setidaknya kita harus mengerti tentang orang yang sedang kita perhatikan itu berdasarkan tiga hal yang akan penulis coba jelaskan dalam tulisan ini, ketiga hal itu adalah manusia sebagai makhluk yang sama dengan manusia lain (universal), manusia sebagai makhluk yang sama dengan sebagian manusia lain (kelompok), dan manusia sebagai makhluk yang jelas berbeda dari manusia lainnya (unik/individu).

Seringkali kita melihat manusia hanya dari satu sisi, melihat kesalahan yang mereka lakukan dan menilainya dengan serampangan, memberikan label permanen terhadap dirinya tanpa pernah mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Pemaknaan terhadap orang lain sering kali yang terjadi hanyalah bias belaka yang diliputi oleh persangkaan-persangkaan yang belum tentu benarnya, bukan hanya merugikan siapa yang disangkakan melainkan juga akan merugikan orang yang memiliki prasangka tersebut. dalam keadaan yang sering disebut sebagai keadaan salah sangka ini seseorang sering kali mengalami salam paham yang mengakibatkan buruknya hubungan yang terjadi didalam lingkungan sosial. untuk mengatasi hal tersebut ada baiknya kita sebagai manusia dalam menilai manusia lainnya dilandasi oleh 3 spektrum seperti yang telah disebutkan diatas sehingga apa yang telah kita nyatakan tidaklah terlalu jauh dengan kenyataannya, dan juga tidak hanya merupakan persangkaan kosong yang subjektif belaka.

Melihat manusia sebagai bagian dari suatu kelompok tertentu jelas sangat didasari dengan sifat manusia yang merupakan makhluk sosial yang tidak mungkin terlepas dari kehadiran orang lain dalam kehidupannya. Kecenderungan manusia untuk dipengaruhi dan juga saling mempengaruhi satu sama lainnya dalam berinteraksi sosial merupakan salah satu faktor penting dalam diri kita ketika melihat satu sosok manusia untuk dinilai, namun dalam kenyataannya dalam suatu kelompok cenderung ada yang disebut dengan stereotip yang merupakan suatu sangkaan yang cenderung belum benar adanya. Stereotip pada dasarnya terbentuk akibat suatu bentuk generalisasi yang dilakukan secara membabi-buta terhadap suatu kelompok tertentu, baik itu etnis, agama, ras, budaya, bangsa, partai politik, atau yang lainnya oleh masyarkat. Namun memang pada kenyataannya kehadiran stereotip memang bukanlah hanya merupakan suatu isapan jempol belaka, ada juga bentuk empiris yang terjadi diakibatkan suatu pengalaman dan juga pengamatan yang telah berlalu bersama dengan waktu. Tidak dapat dikatakan bahwa stereotip selalu salah, namun dalam melihat manusia itu sendiri tidak semudah kita melihat sebuah benda, dalam keadaan ini tidak seorangpun dapat melihat dalam diri manusia yang paling dalam, manusia dilindungi oleh tubuhnya dalam menyembunyikan aktifitas mental yang dimilikinya. Sehingga tidak ada yang mampu melihat dan menerka apa yang akan dilakukan oleh seseorang pada kemudian saat. Manusia merupakan makhluk yang sulit untuk diterka dikarenakan mereka memiliki akal pikiran namun selain itu juga dikarenakan manusia memiliki perasaannya yang unik terhadap segala sesuatu yang dihadapinya.

Dalam suatu kelompok pastilah berlaku suatu peraturan-peraturan atau norma baik itu yang tertulis maupun yang tidak tertulis, dan dari norma dan peraturan itu akan menumbuhkan suatu karakter yang bersifat umum bagi anggota kelompok tertentu. Dari sinilah kita bisa menilai manusia lainnya, dikarenakan lingkunagn hidup tempat ia berinteraksi sehari-hari pastilah merupakan suatu rujukan bagi dirinya dalam berperilaku sehari-hari. Baik itu gender, ras, agama, suku, bangsa, paham politik dan lain-lain. manusia memiliki sifat dasar yang menuntut penerimaan dari lingkungannya, kebanyakan manusia mengerti bahwa jika mereka ingin diterima dalam kelompok mereka, maka yang harus dilakukan adalah dengan memenuhi harapan kelompok, walau tidak jarang seseorang menolak tuntutan masyarakat terhadap dirinya walau hal ini hanya terjadi pada segelintir orang saja, namun akibat dari itu semua adalah suatu penolakan dari masyarakat dan juga alienasi.

Maka dari itu dapat dilihat dan dinilai mengenai manusia dari apa yang ada dalam lingkungan tempat mereka hidup, peran-perannya dalam lingkungan dan juga hasil interaksi yang ia lakukan dengan manusia lain didalam lingkungannya tersebut. dalam melihat manusia sebagai makhluk yang sama dengan sebagian manusia lain dapat dinilai juga dari proses-proses mental yang mereka miliki seperti prinsip dalam beragama dan juga pandangan politik. Hal ini dapat dikenali dari simbol-simbol yang mereka gunakan dalam memperkenalkan apa yang mereka anut terhadap dunia diluar dirinya. Maka mereka yang melihat dapat meng-kira-kira apa yang menjadi dasar perilakunya. Demikianlah sedikit dari cara melihat manusia dari sisi manusia sebagai bagian dari kelompok.

Maka yang terakhir adalah melihat manusia sebagai makhluk yang unik, manusia sebagai pribadi, manusia sebagai sesuatu yang tidak ada duanya. Bahkan dua orang yang kembar secara identik pun tidak memiliki kepribadian yang sama. Manusia masing-masing memiliki dimensinya sendiri, dimana dimensi mereka dengan dimensi manusia lainnya hanya memiliki kemiripan namun bukan kesamaan secara persis. Demikian halnya dengan fisik mereka. Jadi jumlah jenis manusia adalah sebanyak jumlah manusia itu sendiri. menghargai manusia sebagai makhluk yang unik pada dasarnya merupakan hal yang sulit bagi manusia itu sendiri, kemanusiaan adalah suatu bentuk penghargaan terhadap setiap jiwa dan juga terhadap segala potensi-potensinya.

Dalam melihat manusia sebagai makhluk yang unik dapat diterapkan dengan melihatnya sebagai bagian dari lingkungan, interaksinya terhadap gejala-gejala yang bersifat umum. Karena langkah yang diambil manusia dalam menghadapi sesuatu pada dasarnya ada yang bersifat umum dan khusus, memfokuskan permasalahan pada hal yang khusus sering kali bersifat subjektif namun dapat menjadi suatu landasan yang ampuh dalam menilai diri seseorang jika dipadukan dengan apa yang dianut dalam kehidupan mentalnya sebagai garis besar dasar filsafat dan juga pemahaman.

Bersama dengan kekurangan dan kelebihannya manusia hidup dalam dunia ini, dan berusaha menjadi seperti apa yang mereka harapkan, walaupun harapan itu merupakan hasil ciptaan yang dipengaruhi oleh pihak lain diluar dirinya, namun tetap yang menjalankan semua itu adalah diri mereka sendiri-sendiri. manusia adalah makhluk yang memiliki potensi yang tidak dapat diduga, apa yang terjadi hari ini pada dirinya memiliki kemungkinan menjadi berbeda pada hari yang bereikutnya, namun ada manusia yang memiliki kekonsistenan dalam dirinya, entah itu yang membabibuta atau yang bersifat membangun. Manusia adalah makhluk dengan moral namun terkadang manusia juga bisa disebut sebagai binatang yang berakal. Gejolak dalam diri manusia akan selalu tercermin dlama tingkahlakunya sehingga, dari tingkahlaku akan terlihat apa yang sebenarnya terjadi didalam diri manusia itu sendiri, apa yang menjadi pokok permasalahannya dan apa yang menjadi tujuannya.

Semoga dengan tulisan yang tidak seberapa ini akan dapat memberikan sedikit inspirasi kepada para pembaca, masukan kritik dan seran jelas sangat dibutuhkan sehingga apa yang tertulis sekarang ini dapat dicari tahu dimana kesalahan dan kebenarannya.


Baca terusannya......

Thursday, February 5, 2009

Psikologi Transpersonal

Ilmu pengetahuan selalu berkembang seiring berjalannya waktu, hal ini terjadi dalam semua bidang ilmu. Demikian halnya dengan ilmu psikologi. Setelah mengenal beberapa mazhab seperti psikoanalisis, bihavioristik dan humanistik, kini dunia psikologi memperkenalkan psikologi transpersonal. Dalam tulisan ini akan dijelaskan secara singkat mengenai mazhab keempat dalam ilmu psikologi yaitu psikologi transpersonal.

Psikologi Transpersonal dikembangkan pertama kali oleh para ahli yang sebelumnya mengkaji secara mendalam bidang humanistik seperti Abraham Maslow, C.G. Jung, Victor Frankl, Antony Sutich, Charles Tart dan lainnya. Dengan melihat dari para tokoh awalnya maka dapat diketahui bahwa psikologi transpersonal merupakan turunan langsung dari psikologi humanistik. Yang membedakan antara psikologi humanistik dan psikologi transpersonal adalah didalam psikologi transpersonal lebih menggali kemampuan manusia dalam dunia spiritual, pengalaman puncak, dan mistisme yang dialami manusia. Beberapa kalangan berpendapat bahwa bidang spiritualitas dan kebatinan hanya didominasi oleh para ahli-ahli agama dan juga praktisi mistisme, namun ternyata dalam perkembangannya, kesadaran akan hal ini dapat diaplikasikan dan dibahas dalam ilmu pasti.

Secara garis besar seperti yang dikemukakan oleh Lajoie dan Shapiro dalam Journal of Transpersonal Psychology didefinisikan psikologi transpersonal sebagai studi mengenai potensi tertinggi dari manusia melalui pengenalan, pemahaman dan realisasi terhadap keesaan, spiritualitas dan kesadaran-transendental. Psikologi transpersonal juga melepaskan diri dari keterikatan berbagai bentuk agama yang ada. Namun walau demikian dalam penelitiannya psikologi transpersonal mengkaji pengalaman spiritual yang dialami oleh para ahli spiritual yang berasal dari berbagai macam agama sebagai subjek penelitiannya.

Psikologi transpersonal berpendapat bahwa potensi tertinggi dari individu terdapat dalam dunia spiritual yang bersifat non-fisik, hal ini ditunjukkan dengan berbagai pengalaman seperti kemampuan melihat masa depan, extrasensory perception (ESP), pengalaman mistik, pengembangan spiritualitas, pengalaman puncak, meditasi dan berbagai macam kajian yang bersifat parapsikologi atau metafisik. Dengan menyadari betul tentang keadaan manusia yang bukan hanya terletak pada dunia fisik semata dan meyakini bahwa inti terpenting dari individu terletak pada dunia spiritual yang bersifat kasat mata dan abstrak.

Dengan berbekal teori dan juga penelitian yang sesuai dengan sifat keobjektifan ilmu pengetahuan, maka dalam perkembangan pengkajian terhadap berbagai macam hal-hal mistis dan kebatinan tidak lagi menjadi suatu hal yang tabu untuk dibahas dan bahkan dipelajari, selama dalam penggunaannya memberikan manfaat yang baik dan berguna bagi perkembangan kehidupan manusia. Dari hasil penelitian Telah dibuktikan bahwa Individu cenderung untuk tidak membicarakan pengalaman puncak mereka dengan orang lain. Alasan yang paling banyak adalah bahwa mereka merasa pengalaman itu bersifat sangat personal, intim, dan tidak ingin mereka bagi; bahwa mereka tidak mempunyai kata-kata yang memadai untuk menceritakannya; atau mereka ketakutan jika orang lain akan melecehkan pengalaman itu atau menganggap mereka tidak waras atau sejenisnya.

Psikologi transpersonal mengkombinasikan ketiga mazhab psikologi yang telah ada sebelumnya dengan cara mendialogkan semua teori dengan keadaan manusia sebagai makhluk spiritual. Meski selalu mendapat tentangan keras dari mereka yang beraliran positivis dan juga materialis dilain sisi psikologi transpersonal mendapatkan tempat yang baik dalam bidang akademik. Dengan dimulainya berbagai macam penelitian yang bertujuan mengkaji dimensi spiritual manusia maka era milennium ini yang merupakan era aquarian benar-benar telah terwujud.

Baca terusannya......
everyone is the chosen one